Minggu, 17 Maret 2013

Kepribadian


PSIKOANALISIS SOSIAL

Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia.
Pada mulanya Horney merupakan pengikut Freud, yang kemudian terpengaruh oleh Carl Gustav Jung dan Alfred Adler. Akhirnya dia mengembangkan pendekatan kepribadian yang holistik. Manusia berada dalam satu totalitas pengalaman dan fungsinya, dan bagian-bagian kepribadian seperti fisikokimia, emosi, kognisi, sosial, kultural, spiritual, hanya dapat dipelajari dalam hubungannya satu dengan yang lain sebagai suatu kepribadian yang utuh. Pakar psikoterapi lain seperti Monroe berpendapat teori dan konsep Horney berbeda secara radikal dengan pikiran Freud dan Freudian, sehingga sukar mencari kesejajaran antara keduanya. Namun Horney sendiri menyatakan bahwa “tidak ada hal penting yang dapat dikerjakan diranah psikologi dan psikoterapi tanpa mengakui temuan fundamental dari Freud.” Menurut Horney, doktrin Freud yang terpenting adalah:
1.    Semua proses dan event psikis bersifat ditentukan (semua terjadi karena alasan tertentu, dan bukan terjadi secara random).
2.    Semua tingkah laku mungkin ditentukan oleh motivasi tak sadar.
3.    Motivasi yang mendorong manusia adalah kekuatan yang bersifat emosional dan nonrasional.
Disisi lain, Horney menentang teori Freud dalam hal:
1.    Teori Freud terlalu mekanistik dan biologik sehingga tidak bisa menggambarkan keutuhan motivasi dan tingkahlaku manusia.
2.    Perhatian Freud terhadap interrelasi manusia sangat kecil, sehingga berakibat penekanan yang salah pada motivasi seksual dan konflik. Seharusnya, keamanan dan ketidakpuasan (non seksual) yang menjadi kekuatan pendorong berfungsinya kepribadian.
3.    Tingkah laku agresi dan destruksi bukan hereditas seperti yang dikemukakan Freud, tetapi merupakan sarana bagaimana orang berusaha melindungi keamanannya.
4.    Freud berpendapat penis envy adalah gambaran wanita yang inferior dan cemburu karena peran kelaminnya lebih rendah dari laki-laki, sedang Horney dan Adler berpendapat bahwa penis envy adalah simbolik wanita yang mengingikan persamaan status dan kekuasaan seperti pria.
Meskipun menggambarkan orang yang berfungsi baik, sebagai terapis, ia lebih terkait dengan individu yang disebutneurotik. Ia percaya bahwa rumah yang hangat dan penuh kasih bisa memungkinkan seseorang untuk menghindarikecemasan neurotik dan konflik seperti Erich Fromm, namun dia juga percaya bahwa aspek tertentu dari masyarakat kita menciptakan konflik yang intens seperti itu di masyarakat bahwa mereka mungkin juga perlu banyak "istirahat" untuk menghadapi tantangan menjadi orang yang sehat.
Horney percaya neurosis menjadi proses yang terus menerus terjadi secara sporadis dalam hidup seseorang. Hal ini berbeda dengan pendapat sebayanya yang percaya bahwa neurosis, seperti kondisi mental yang lebih parah, kerusakan negatif dari pikiran dalam menanggapi rangsangan eksternal, seperti kematian, perceraian atau pengalaman negatif selama masa kanak-kanak dan remaja. Horney percaya asumsi-asumsi ini menjadi kurang penting, kecuali untuk pengaruh masa anak-anak. Sebaliknya, dia menekankan signifikan terhadap ketidak pedulian orangtua terhadap anak, percaya bahwa persepsi seorang anak tentang peristiwa, yang bertentangan dengan niat orang tua, adalah kunci untuk memahami neurosis seseorang.

Lingkaran Setan – Kecemasan
(Horney, 1937)
Kecemasan dan permusuhan cenderung ditekan (repress), atau dikeluarkan dari kesadaran, karena menunjukan rasa takut bisa membuka kelemahan diri, dan menunjukan rasa marah beresiko dihukum dan kehilangan cinta dan keamanan. Bayi mengalami proses melingkar, yang oleh Horney dinamakn Lingkaran setan atau vicious circle. Dimulai sejak akhir, bayi membutuhkan kehangatan dan kasih sayang untuk dapat menghadapi tekanan lingkungan. (1) Kalau kehangatan cinta dan kasih sayang ini tidak cukup diperoleh, (2) Bayi menjadi marah dan muncul perasaan permusuhan karena diperlakukan secara salah itu. (3) Tetapi kemarahan harus di repress agar perolehan cinta dan rasa aman yang hanya sedikit (tidak cukup) itu tidak hilang sama sekali. (4) Perasaan menjadi kacau, muncul kecemasan dasar dan permusuhan dasar. (5) Kebutuhan kasih sayang dan cinta semakin besar. (6) Kemungkinan akan semakin banyak kebutuhan kasih sayang yang tidak terpenuhi sehingga semakin kuat pula perasaan marah yang timbul. (7) Perasaan permusuhan  menjadi semakin kuat. (8) Repressi harus semakin kuat dilakukan agar perolehan kasih sayang yang hanya sedikit itu tidak hilang. (9) Tegangan perasaan kacau, marah, gusar, mangamuk semakin kuat. Kembali ke (4) ini akan membuat kecemasan dasar dan permusuhan dasar semakin kuat, dan akan terus semakin parah kalau lingkaran 4 > 5 > 6 > 7 > 8 > 9 > 4 dst. terus menerus terjadi.

2.1     Kecemasan dan Konflik (Anxiety and Conflict)
Menurut Horney (Lindzey, 1985), semua orang mengalami creature anxiety, perasaan cemas yang normal muncul pada masa bayi, ketika bayi yang lahir dalam keadaan tak berdaya dan rentan itu dihadapkan dengan kekuatan alam yang keras dan tidak bisa dikontrol. Bimbingan yang penuh kasih sayang dan cinta pada awal kehidupan membantu bayi belajar menangani situasi bahaya itu. Sebaliknya, tanpa bimbingan yang memadai bayi akan megembangkan basic anxiety, basic hostility, dan terkadang neurotic distress.

2.2     Kecemasan Dasar dan Permusuhan Dasar (Basic Anxiety and Basic Hostility)
Kecemasan dasar berasal dari rasa takut, suatu peningkatan yang berbahaya dari perasaan tak berteman dan tak berdaya dalam dunia yang penuh ancaman (Horney, 1937). Kecemasan juga telah didefinisikan dalam istilah perilaku ekspresif, tingkat umum aktivitas, dan seluruh kelas gejala perilaku dan fisiologis diagnostik. Kecemasan  dasar selalu dibarengi oleh permusuhan dasar, berasal dari perasaan marah, suatu predisposisi untuk mengantisipasi bahaya dari orang lain dan untuk mencurigai orang lain itu. Bersama-sama, kecemasan dan permusuhan  membuat orang yakin bahwa dirinya harus dijaga untuk melindungi keamanannya (Lindzey, 1985).
Kecemasan dasar itu sendiri bukanlah neurosis, melainkan “lahan subur dimana neurosis dapat berkembang setiap saat” (Horney, 1937). Kecemasan dasar terjadi terus menerus dan sulit dihentikan, secara tidak langsung membutuhkan stimulus tertentu, seperti menjalani ujian di sekolah atau berpidato. Kecemasan dasar mempengaruhi semua hubungan yang terjalin dengan orang lain dan mengarah pada cara-cara yang tidak sehat untuk berhadapan dengan orang lain.
Teori Horney tentang neurosis didasarkan pada konsep gangguan psikis yang membuat orang terkunci dalam lingkaran yang membuat tingkah laku tertekan dan tidak produktif, kemudian dikenal sebagai masalah kecemasan (Alwisol, 2009).
Bila teori belajar berurusan dengan kecemasan, dia berurusan terutama dengan hubungan yang konsekuen, ketika eksistensialis berbicara tentang kecemasan, dia khawatir terutama dengan pengalaman kecemasan, sedangkan ia memiliki perhatian yang relatif sedikit dengan yg di kondisi belajar.

2.3    Konflik Interpersonal : Kebebasan versus Kesepian
Konflik adalah pertentangan antar kekuatan yang berhadapan dalam fungsi manusia, yang tidak dapat dihindari. Pengalaman konflik tidak berarti mengidap neurotik. Suatu ketika, harapan, minat, atau pendirian seseorang bertabrakan dengan orang lain. Konflik dalam diri sendiri adalah bagian yang integral dari kehidupan manusia, misalnya dihadapkan pilihan dua keingianan yang arahnya berbeda, atau antara harapan dengan kewajiban atau antara dua perangkat nilai. Juga, nilai kultural sering mengalami konflik di dalam maupun dengan nilai di luarnya. Misalnya, masyarakat mendorong anggotanya untuk berkompetisi meraih prestasi, tetapi juga mewajibkan orang mempedulikan orang lain dan mendahulukan minat kepentingan orang lain dari pada kepentingan pribadi. Nilai-nilai tradisioanl menuntut peran ibu sebagai pengasuh anak bertentangan dengan nilai modern yang menghargai persamaan hak pria dan wanita (Alwisol, 2009).
Perbedaan konflik normal dengan konflik neurotik adalah taraf atau tinggi rendahnya. Setiap orang memakai berbagai cara mempertahankan diri melawan penolakan, permusuhan, dan persaingan dari orang lain. Orang normal mampu berbagai macam-macam strategi pertahanan disesuaikan dengan masalahnya, sedang orang neurotik secara komplusif memakai strategi pertahanan yang sama yang pada dasarnya tidak produktif. Orang dengan kecemasan dasar mungkin memulai hidup dengan konflik yang sangat berat, konflik antara kebutuhan rasa aman dan kebutuhan menyatakan kebebasan emosi dan pikiran. Semuanya dimulai dari hubungan bayi dengan ibunya, hubungan antar manusia. Dalam bukunya Self-Analysis (19242), Horney mengemukakan sepuluh kebutuhan neurotik, yakni kebutuhan yang timbul sebagai akibat dari usaha menemukan pemecahan-pemecahan masalah gangguang antara hubungan manusia.
1.        Kebutuhan kasih sayang dan penerimaan : keinginan membabi-buta untuk menyenangkan orang lain dan berbuat sesuai dengan harapan orang lain. Orang itu mengharapkan dapat diterima baik orang lain, sehingga berusaha bertingkah laku sesuai dengan harapan orang lain, cenderung takut berkemauan, dan sangat peka/ tergantung dengan tanda-tanda permusuhan dan penolakan dari orang lain, dan perasaan permusuhan di dalam dirinya sendiri.
2.        Kebutuhan partner yang bersedia mengambil alih kehidupannya : tidak memiliki kepercayaan diri, berusaha mengikat diri dengan partner yang kuat. Kebutuhan ini mencakup penghargaan yang berlebihan terhadap cinta, dan ketakutan akan kesepian dan diabaikan.
3.        Kebutuhan membatasi kehidupan dalam ranah sempit : Penderita neurotik sering berusaha untuk tetap tidak menarik perhatian, menjadi orang ke-dua, puas dengan yang serba sedikit. Mereka merendahkan nilai kemampuan mereka sendiri, dan takut menyuruh orang lain.
4.        Kekuasaan : kekuatan dan kasih sayang memungkin dua kebutuhan neurotik yang terbesar. Kebutuhan kekuatan, keinginan berkuasa, tidak menghormati orang lain, memuja kekuatan dan melecehkan kelemahan, yang berwujud sebagai kebutuhan mengontrol orang lain dan menolak perasaan lemah atau bodoh.
5.        Kebutuhan mengeksploitasi orang lain : Takut menggunakan kekuasaan secara terang-terangan, menguasai orang orang lain melalui eksploitasi dan superiorita intelektual. Neurotik sering mengevaluasi orang lain berdasarkan bagaimana mereka dapat dimanfaatkan atau dieksploitasi, pada saat yang sama mereka takut dieksploitasi orang lain.
6.        Kebutuhan pengakuan sosial atau prestise : Kebutuahan memperoleh penghargaan sebesar-besarnya dari masyarakat. Banyak orang yang berjuang melawan kecemasan dasar dengan berusaha menjadi nomor satu, menjadi yang terpenting, menjadi pusat perhatian.
7.        Kebutuhan menjadi pribadi yang dikagumi : Pengidap narkotik memiliki gambaran diri melambung dan ingin dikagumi atas dasar gambaran itu, bukan atas siapa sesungguhnya mereka. Inflasi harga diri yang terus menerus terjadi harus ditutupi juga secara terus menerus dengan penghargaan dan penerimaan dari orang lain.
8.        Kebutuhan ambisi dan prestasi pribadi : Penderita neurotik sering memiliki dorongan untuk menjadi yang terbaik, contoh: penjual terbaik, pemain bowling terbaik, pecinta terbaik. Mereka ingin menjadi yang terbaik dan memaksa diri untuk semakin berprestasi sebagai akibat dari perasaan tidak aman, harus mengalahkan orang lain untuk manyatakan superioritasnya.
9.        Kebutuhan mencukupi diri sendiri dan independensi : Neurotik yang kecewa – gagal menemukan hubungan-hubungan yang hangat dan memuaskan dengan orang lain yang cenderung akan memisahkan diri tidak mau terikat dengan orang lain, membuktikan bahwa mereka bisa hidup tanpa orang lain. Gambaran khas dari sifat “play boy” yang tidak mau terikat dengan wanita manapun.
10.    Kebutuhan kesempurnaan dan ketaktercelaan : Melalui perjuangan yang tidak mengenal lelah untuk menjadi sempurna, penderita neurotik membuktikan harga diri dan superioritas pribadinya. Mereka sangat takut membuat kesalahan dan mati-matian berusaha menyembunyikan kelemahannya dari orang lain.
Kecemasan dasar dan permusuhan dasar terbentuk dari konflik antara kebutuhan untuk keamanan dan kebutuhan untuk mengekspresikan, emosi fundamental dan pikiran.

2.4     Konflik Intrapsikis
Kecenderungan neurotik yang timbul dari kecemasan dasar, berkembang dari hubungan anak dengan orang lain. Dinamika kejiwaan yang terjadi menekankan pada konflik budaya dan hubungan antar pribadi. Dalam hal ini Horney tidak mengabaikan faktor intrapsikis dalam perkembangan kepribadiannya. Menurutnya, proses intrapsikis semula berasal dari pengalaman hubungan antar pribadi kemudian mengembangkan eksistensi dirinya terpisah dari konflik interpersonal. Untuk dapat memahami konflik intrapsikis yang sarat dengan dinamika diri, perlu difahami empat gambaran diri dari Horney (Alwisol, 2009), yaitu :
1.             Diri Rendah (Despised Real Self)
          Konsep yang salah tentang kemampuan diri, keberhargaan dan kemenarikan diri, yang didasarkan pada evaluasi orang lain yang dipercayainya, khususnya orang tuanya. Evaluasi negative mungkin mendorong oramg untuk merasa tak berdaya.
2.             Diri Nyata (Real Self)
          Pandangan subjektif bagaimana diri yang sebenarnya, mencakup potensi untuk berkembang, kebahagiaan, kekuatan, kemauan, kemampuan khusus, dan keinginan untuk “realisasi diri”, keinginan untuk spontan menyatakan diri yang sebenarnya.
3.             Diri Ideal (Ideal Self)
          Pandangan subjektif mengenai diri yang seharusnya, suatu usaha untuk menjadi sempurna dalam bentuk khayalan, sebagai kompensasi perasaan tidak mampu dan tidak dicintai.
4.             Diri Aktual (Actual Self)
          Berbeda dengan real self yang subektif, aktual self adalah kenyataan objektif diri seseorang, fisik dan mental apa adanya, tanpa dipengaruhi oleh persepsi orang lain.
2.5     Upaya Mengatasi (Attempts At Coping)
Untuk mengatasi kecemasan dasar, orang mengembangkan sejumlah strategi. Mereka menciptakan dan berusaha untuk mewujudkan sebuah citra diri ideal dengan mencapai kesempurnaan, atau "kemuliaan", mereka mengembangkan "sistem kebanggaan" untuk mendukung gambaran ideal, serta satu set perilaku standar yang mustahil, atau "keharusan", dan mereka mencoba untuk memungkiri, atau "mengeksternalisasi", hal-hal dalam diri mereka yang mereka tidak dapat mengatasi. Semua upaya ini dapat menghasilkan "keterasingan dari diri"
Mengatasi telah didefinisikan dalam istilah psikologis oleh Susan Folkman dan Richard Lazarus sebagai "constantly changing cognitive and behavioral efforts to manage specific external and/or internal demands that are appraised as taxing" (selalu berubah upaya kognitif dan perilaku untuk mengelola tuntutan eksternal atau internal tertentu yang dinilai sebagai beban) atau "exceeding the resources of the person” (melebihi sumber dari orang). (Lazarus & Folkman, 1984)
Dengan demikian, mengatasi (Coping) merupakan pengeluaran usaha sadar untuk memecahkan masalah personal dan interpersonal, dan berusaha untuk menguasai, mengurangi atau mentolerir stres atau konflik. Mekanisme coping psikologis biasanya disebut strategi mengatasi atau keterampilan mengatasi. Istilah mengatasi umumnya mengacu pada strategi penanggulangan adaptif atau konstruktif, yaitu strategi mengurangi tingkat stres. Namun, beberapa strategi penanganan yang dapat dianggap maladaptif, yaitu, tingkat stres meningkat. Maladaptif mengatasi dengan demikian dapat dijelaskan, pada dasarnya, sebagai non-coping. Selanjutnya, istilah mengatasi umumnya mengacu reaktif coping, yaitu, respon coping berikut stressor. Ini kontras dengan mengatasi proaktif, dimana respon coping bertujuan untuk mencegah stressor masa depan.Respon coping yang sebagian dikendalikan oleh kepribadian (sifat kebiasaan), tetapi juga sebagian oleh konteks sosial, khususnya sifat dari lingkungan stress.



STRES DAN KONFLIK
Stres adalah respon adaptif yang dihubungkan oleh perbedaan individu dan atau proses psikologi yang rupakan konsekuensi tindakan,situasi,atau kejadian eksternal yang menempatkan tuntutan psikologis atau fisik secara berlebihan pada seseorang
Robbins & Judge 2 (2008:368) Stres adalah suatu kondisi dinamis dimana indivuidu dihadapkan pada peluaang, tuntutan, atu sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu tersebut dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting.
Stres mengacu pada reaksi terhadap situasi atau kejadian, bukan situasi atau kejadian itu sendiri, stres dipengaruhi perbedaan individu dan stres menekankan frasa “kebutuhan psikologis dan atau fisik yang berlebihan”
Dapat disimpulkan Stres adalah suatu kondisi ketegangan adanya tuntutan baik fisik maupun psikologis yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stres yang berlebihan dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan, yang akhirnya seseorang tersebut dapat mengganggu kinerja. Mereka yang stress menjadi mudah marah, dan agresi, tidak relaks, atau menunjukkan sikap tidak kooperatif.
Stres kerja adalah kondisi yang muncul dari interaksi antara manusia dan pekerjaan dan merubah serta memaksa manusia menyimpang dari fungsi normal mereka.
Munculnya stres dikarenakan adanya tuntutan lingkungan baru, contohnya adalah teknologi yang berkembang menciptakan masalah, yaitu kehilangan privasi, banjir informasi, erosi hubungan tatap muka, terus mempelajari keahlian baru, ditolak karena kurangnya pengetahuan,contoh lain adalah ketika seseorang dibebankan pada target-target pecapaian otomatis akanmenjadikan beban dan mempunyai potesi terhadap munculnya stress.
 Stress terdiri dari 2 yaitu stress yang negative (distress) contohnya kebijakan kantor yang tidak sejalan, prosedur birokrasi, dan karir yang terhambat atau stress yang positif (eustres) contohnya sesuatu yang baik, seperti promosi jabatan, tanggung jawab yang meningkat, tekanan waktu, tugas yang berkualitas tinggi. Burnout adalah masalah lingkungan dimana orang tersebut bekerja.burnout membuat orang merasa terisolasi dan kehilangan control.

Penyebab Stres
a.       Stresor Ekstraorganisasi
Stresor di luar organisasi berhubungan dengan efek dan perasaan negatif pada pekerjaan mencakup:
1.      Perubahan sosial /teknologi mempunyai efek yang besar pada gaya hidup yang terbawa pada pekerjaan.
2.      Kondisi Keluarga, seperti; hubungan yang buruk, sakitnya anggota keluarga, pertengkaran,  krisis keluarga.
3.      Pindah tempat (relokasi) sekeluarga karena promosi, dapat menyebabkan stres.
4.      Perubahan hidup , seperti; menjadi lebih tua, kehilangan pasangan karena kematian atau perceraian.
5.      Variabel sosiologis seperti; ras, jenis kelamin, kelas sosial 
b.      Stresor organisasi yang potensial mencakup:
1.      Kebijakan dan Strategi Organisasi
Contoh; penyusutan karyawan, rotasi shift kerja, aturan birokrasi, teknologi canggih ,perencanaan gaji jasa,tekanan kompetitif.
2.      Struktur dan Desain Organisasi
Contoh: sentralisasi dan formalisasi, konflik lini-staf, ambiguitas peran, tidak ada kesempatan maju ,tanggung jawab tanpa otoritas,budaya melarang dan tidak percaya.
3.      Proses Organisasi
Contoh: pengawasan yang ketat, komunikasi satu arah, sedikit umpan balik , kurangnya partisipasi, menurunnya hubungan karyawan,penghargaan yang tidak memadai,pengambilan keputusan sentral
4.      Kondisi Kerja
Contoh: area kerja bising, panas, dingin, bau , tidak aman, tidak sehat, penerangan kurang,polusi udara,tekanan fisik atau mental,bahan kimia beracun atau radiasi.
c.       Stresor Kelompok
Stresor kelompok dikategorikan menjadi;
1.      Kurangnya kohesivitas kelompok
Kohesivitas atau kebersamaan merupakan hal penting bagi karyawan. Jika karyawan tidak mengalami kesempatan kebersamaan karena desain kerja, karena penyedia melarang atau membatasinya, kurangnya kohesivitas akan menyebabkan stres
2.      Kurangnya dukungan sosial
Jika dukungan sosial kurang  pada individu, maka situasi ini akan membuat stres.
d.      Stresor Individu
*      Pada level individu, dimensi situasi dan disposisi individu dapat mempengaruhi stres
*      Ciri kepribadian, seperti otoritarisme, regiditas, spontani-tas, toleransi pada ambiguitas.
*      Persepsi kontrol personal, seperti perasaan orang mengenai kemampuan mengontrol situasi
*      Ketidakberdayaan yang dipelajari, orang yang menyerah pada situasi walaupun sebenarnya ia dapat melawannya,
*      Daya tahan psikologis, daya tahan terhadap provokasi, tekanan.
Gibson (1996:363) mengidentifikasi lima kategori efek dari stres :
1.      Subyektif
Efeknya adalah kekhawatiran/ketakutan, agresi, apatis, rasa bosan, depresi, keletihan, frustasi, kehilangan kendali emosi, gugup, kesepian
2.      Perilaku
Efeknya adalah mudah celaka, kecanduan alkohol, penyalah gunaan obat, makan dan merokok secara berlebihan, perilaku impulsif.
3.      Kognitif
Efeknya adalah ketidakmampuan untuk membuat keputusan yang masuk akal, daya konsentrasi rendah, kurang perhatian, sensitif thd kritik, hambatan mental.
4.      Fisiologis
Efeknya adalah kandungan glukosa darah meningkat, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, mulut kering, berkeringat, bola mata melebar, panas dan dingin.
5.      Organisasi
Efeknya adalah angka absensi, omset, produktivitas rendah, terasing dari mitra kerja, ketidakpuasan kerja, komuitmen dan loyalitas berkura
Robbins dan Judge (2008:173) konflik sebagai suatu proses yang dimulai ketika satu pihak memiliki persepsi  bahwa  pihak lain akan atau  telah mempengaruhi secara negatif, sesuatu yg menjadi kepedulian atau kepentingan pihak pertama.
Konflik (organisasi) dapat terjadi karena perbedaan pendapat, pandangan, interpretasi, persepsi serta kepentingan antar individu atau antar kelompok dalam organisasi, yang menimbulkan bertentangan atau perselisihan.
Konflik Intraindividu menunjuk adanya pertentangan, ketidak pastian atau emosi-emosi dan dorongan yang antagonistik di dalam diri seseorang.
a)      Konflik Akibat Frustasi
Frustasi sendiri terjadi ketika seseorang tidak termotivasi dan merasa tidak mampu dalam mencapai tujuan yang diinginkan
Contoh : Ketika seorang karyawan tidak mencapai target yang ditetapkan oleh perusahaan dimana ia bekerja,ia cenderung akan mengalami frustasi yang dapat mengakibatkan agresifitas denga karyawan lain.
b)      Koflik Tujuan
Konflik tujuan terjadi ketika dua motif tujuan atau lebih saling menghalangi.
a.       Konflik pendekatan-pendekatan,seseorang dimotivasi untuk mendekati dua tujuan positif atau lebih,terutma tujuan eksklusif,
b.      Konflik pendekatan-pengindraan,seseorang dimotivasi untuk mendekati tujuan,pada saat bersamaan juga dimotivasi untuk menghindarinya.
c.       Konflik penghindaran-penghindaran,seseorang dimotivasi untuk menghindari dua tujuan negative atau lebih,terutama tujuan eksklusif.
Contoh : Seorang manajer merencanakan jangka panjang,ketika ia memiliki banyak kesempatan memfungsikan sumber daya dan mengimplementasikan rencana,konsekuensi negative muncul lebih besar,saat itu meneger berada pada titik pendekatan-pengindraan,hasilnya konflik internal dan stress yang mengakibatkan kebimbangan,reaksi fisk bahkan depresi.
c)      Konflik peran dan ambiguitas
Peran adalah posisi yang mempunyai harapan yang berkembang dari norma yang ditetapkan.
a.       Konflik anatar orang dan peran
yaitu konflik anatara kepribadian orang dan harapan peran.
contoh : Seorang Karyawan produksi ditunjuk untuk mengawasi karyawan lain,padahal karyawan tersebut tidak ingin mengawasi karyawan lain dengan ketat sehingga terjadi konflik dalam peran
b.      Konflik antarperan
Harapan yang berlawanan mengenai bagaimana memainkan peran
contoh: Peran sebagai karyawan dengan peran sebagai anak dalam keluarga,sehingga sering harus memilh,hasilnya menjadi konflik memilih peran yang bagaimana.
Konflik Interaktif
1.      Konflik Antarpribadi
Konflik yang terjadi bila seorang individu menghadapi ketidakpastian tentang pekerjaan yang dia harapkan untuk melaksanakannya. Bila berbagai permintaan pekerjaan saling bertentangan, atau bila individu diharapkan untuk melakukan lebih dari kemampuannya.
a.       Perbedaan personal
         Perbedaan antar individu seperti pendidikan, tradisi keluarga, dan budaya dapat menjadi sumber konflik.
b.      Defisiensi informasi
a.       Kegagalan komunikasi karena menggunakan informasi yang beda atau salah informasi.
c.       Ketidaksesuaian peran
a.       Tugas dan fungsi antar pribadi berbeda dan saling tergantung, namun perannyaq mungkin tidak sesuai , misanya antar manajer produksi dan manajer penjualan
d.      Tekanan lingkungan
a.       Dalam lingkungan dengan sumber daya yang langka atau menyusut terdapat tekanan kompetitif atau ketidakpastian yang tinggi merupakan sumber konflik.
2.      Perilaku dan konflik antarkelompok
Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama, karena terjadi pertentangan kepentingan antar kelompok atau antar organisasi.
Kondisi yang menyebabkan konflik :
a.       Kompetisi mendapatkan sumberdaya : dana anggaran, layanan pendukung, karyawan.
b.      Saling ketergantungan tugas
c.       Ambiguitas Jurisdiksional (Wilayah kekuasaan)
d.      Pengejaran Status
Pengaruh Stres dan Konflik Individu
stress yang ringan dapat menyebabkan peningkatan kualitas dan peningkatan aktivitas, perubahan dan kinerja yang lebih baik. Kinerja berbagai tugas sangat dipengaruhi oleh stress dan kinerja biasanya menurun tajam saat stress naik pada tingkat tinggi.
Pengaruh Positif stress : Meningkatkan kohesivitas/keterpaduan / kebersamaan kelompok,Meningkatkan loyalitas,Meningkatkan orientasi aktivitas berbasis kinerja yang menjadi tanggungjawabnya,
Pengaruh Negaif stress : Meningkatnya kepemimpinan otokratis, Penilaian yang berlebihan, Menurunnya komunikasi organisasi, Meningkatnya penyimpangan persepsi/serba curiga, Stereo type yang negative.


Masalah Fisik Akibat Stres dan Konflik

Masalah fisik yang berhubungan dengan stress adalah :
a.       Sistem kekebalan tubuh
b.      Masalah system kardiovaskuler,seperti tekanan darah tinggi dan penyakit jantung
c.       Masalah system gastrointestinal,seperti sembelit dan sakit perut
d.      Masalah Muskuloskeletal,seperti sakit kepala dan sakit punggung.

Strategi Mengatasi Stres dan Konflik
Perilaku Interaktif  baik pada tingkat antar pribadi maupun antar kelompok lebih menghasilkan konflik daripada stress dan solusinya adalah engan mengatasi dan menggelola perilaku tersebut.
Teknik khusus menghilangkan atau mengelola stress adalah :
a.       Olahraga
b.      Relaksasi
c.       Mengendalikan Perilaku
d.      Terapi Kognitif
e.       Jaringan
Strategi Organisasi untuk mengatasi Stress
Pedoman untuk perusahaan yang melakukan penyusutan karyawan dalam mengatasi masalah sindrom survivor adalah sebagai berikut :
a.       Menjadi Proaktif
b.      Mengetahui emosi orang yang bertahan
c.       Berkomunikasi setelah penyusutan karyawan
d.      Mengklarifikasi aturan baru
Keahlian Negosiasi : Lebih dari Manajemen Konflik
1.      Pendekatan Negosiasi Tradisional
a.       Negosiator cenderung dipengaruhi oleh angka atau bentuk pesentasi dari informasi dalam negosiasi
b.      Ketika tidak ada alternative lain ,negosiator secara tidak rasional cenderung mengeskalasi komitmen engan tidakan yang dilakukan sebelumnya.
c.       Negosiator cenderung berasumsi bahwa pendapatan mereka harus berasal dari pengeluaran pihak lain.
d.      Penilaian negosiator cenderung diperkuat pada informasi tidak relevan, seperti penawaran awal
e.       Negosiator cenderung mengandalkan informasi yang tersedia
f.       Negosiator cenderung gagal mempertimbangkan informasi yang ada dengan focus pada perspektif lawan
g.      Negosiator cenderung terlalu percaya diri sehubungan dengan kemungkinan mencapai hasil yang diinginkan dari individu yang terlibat.
2.      Keahlian Negosiasi Kontemporer
Pedoman praktis untuk negosiasi yang efektif mengelompokan berbagai teknik negosiasi berdasarkan tingkat resiko bagi pengguna :
a.       Teknik negosiasi resiko rendah
a.       Ujukan-bujukan halus biasanya berhasil
b.      Memberikan point yang mudah dulu ,membantu membangun kepercayaan dan momentum untuk persoalan yang lebih berat
c.       Diam,efektif untuk memperoleh konsensi,tetapi seseorang harus berhati-hati agar tidak memancing kemarahan atau frusasi lawan
d.      Posisi menguntungkan, hal ini memperoleh penawaran balik yang menunjukan posisi lawan atau mungkin mengubah kompromi
b.      Teknik Negosiasi resiko tinggi
a.       Hilangnya kesabaran yang tidak diharapkan
b.      High balling,digunakan untuk memperoleh kepercayaan dengan menyerah kepada posisi lawan
c.       Boulwarism yaitu ambil atau lepaskan yang ada.
d.      Menunggu momen yang tepat


4 elemen dasar pendekatan negosiasi prinsip :
a.       Orang,memisahkan orang dari masalah
b.      Minat,Berfokus pada minat bukan posisi
c.       Pilihan,mennghasilkan berbagai kemungkinan sebelum memutuskan apa yang dilakukan
d.      Kriteria,memaksa bahwa hasil didasarkan pada beberapa standar objektif

Daftar Pustaka
Luthans,Fred. 2009. Perilaku Organisasi. Yogyakarta: Andi
file:///D:/kuliah/SEMESTER%203/PIO/STRESS%20DAN%20KONFLIK/konflik-organisasi.html