PSIKOANALISIS SOSIAL
Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan
para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia.
Pada mulanya Horney merupakan pengikut Freud, yang kemudian
terpengaruh oleh Carl Gustav Jung dan Alfred Adler. Akhirnya dia mengembangkan
pendekatan kepribadian yang holistik. Manusia berada dalam satu totalitas
pengalaman dan fungsinya, dan bagian-bagian kepribadian seperti fisikokimia,
emosi, kognisi, sosial, kultural, spiritual, hanya dapat dipelajari dalam
hubungannya satu dengan yang lain sebagai suatu kepribadian yang utuh. Pakar
psikoterapi lain seperti Monroe berpendapat teori dan konsep Horney berbeda
secara radikal dengan pikiran Freud dan Freudian, sehingga sukar mencari
kesejajaran antara keduanya. Namun Horney sendiri menyatakan bahwa “tidak ada
hal penting yang dapat dikerjakan diranah psikologi dan psikoterapi tanpa
mengakui temuan fundamental dari Freud.” Menurut Horney, doktrin Freud yang
terpenting adalah:
1. Semua
proses dan event psikis bersifat ditentukan (semua terjadi karena alasan
tertentu, dan bukan terjadi secara random).
2. Semua
tingkah laku mungkin ditentukan oleh motivasi tak sadar.
3. Motivasi
yang mendorong manusia adalah kekuatan yang bersifat emosional dan nonrasional.
Disisi lain, Horney menentang teori Freud dalam hal:
1. Teori
Freud terlalu mekanistik dan biologik sehingga tidak bisa menggambarkan
keutuhan motivasi dan tingkahlaku manusia.
2. Perhatian
Freud terhadap interrelasi manusia sangat kecil, sehingga berakibat penekanan
yang salah pada motivasi seksual dan konflik. Seharusnya, keamanan dan
ketidakpuasan (non seksual) yang menjadi kekuatan pendorong berfungsinya
kepribadian.
3. Tingkah laku
agresi dan destruksi bukan hereditas seperti yang dikemukakan Freud, tetapi
merupakan sarana bagaimana orang berusaha melindungi keamanannya.
4. Freud
berpendapat penis envy adalah gambaran wanita yang inferior
dan cemburu karena peran kelaminnya lebih rendah dari laki-laki, sedang Horney
dan Adler berpendapat bahwa penis envy adalah simbolik wanita
yang mengingikan persamaan status dan kekuasaan seperti pria.
Meskipun menggambarkan orang yang berfungsi
baik, sebagai terapis, ia lebih terkait dengan
individu yang disebutneurotik. Ia percaya bahwa rumah yang
hangat dan penuh kasih bisa memungkinkan seseorang
untuk menghindarikecemasan neurotik dan konflik seperti
Erich Fromm, namun dia juga percaya bahwa aspek tertentu dari masyarakat kita
menciptakan konflik yang intens seperti itu di masyarakat bahwa mereka mungkin
juga perlu banyak "istirahat" untuk menghadapi tantangan menjadi
orang yang sehat.
Horney percaya neurosis menjadi proses yang terus menerus terjadi
secara sporadis dalam hidup seseorang. Hal ini berbeda dengan pendapat
sebayanya yang percaya bahwa neurosis, seperti kondisi mental yang
lebih parah, kerusakan negatif dari pikiran dalam menanggapi rangsangan
eksternal, seperti kematian, perceraian atau pengalaman negatif selama masa
kanak-kanak dan remaja. Horney percaya
asumsi-asumsi ini menjadi kurang penting, kecuali untuk pengaruh masa
anak-anak. Sebaliknya, dia menekankan signifikan terhadap ketidak pedulian
orangtua terhadap anak, percaya bahwa persepsi seorang anak tentang peristiwa,
yang bertentangan dengan niat orang tua, adalah kunci untuk memahami neurosis
seseorang.
Lingkaran Setan – Kecemasan
(Horney, 1937)
Kecemasan dan permusuhan cenderung ditekan (repress), atau
dikeluarkan dari kesadaran, karena menunjukan rasa takut bisa membuka kelemahan
diri, dan menunjukan rasa marah beresiko dihukum dan kehilangan cinta dan
keamanan. Bayi mengalami proses melingkar, yang oleh Horney dinamakn Lingkaran
setan atau vicious circle. Dimulai sejak akhir, bayi membutuhkan
kehangatan dan kasih sayang untuk dapat menghadapi tekanan lingkungan. (1)
Kalau kehangatan cinta dan kasih sayang ini tidak cukup diperoleh, (2)
Bayi menjadi marah dan muncul perasaan permusuhan karena diperlakukan secara
salah itu. (3) Tetapi kemarahan harus di repress agar perolehan cinta dan
rasa aman yang hanya sedikit (tidak cukup) itu tidak hilang sama sekali. (4) Perasaan
menjadi kacau, muncul kecemasan dasar dan permusuhan dasar. (5)
Kebutuhan kasih sayang dan cinta semakin besar. (6) Kemungkinan akan semakin
banyak kebutuhan kasih sayang yang tidak terpenuhi sehingga semakin kuat pula
perasaan marah yang timbul. (7) Perasaan permusuhan menjadi semakin
kuat. (8) Repressi harus semakin kuat dilakukan agar perolehan kasih sayang
yang hanya sedikit itu tidak hilang. (9) Tegangan perasaan kacau, marah, gusar,
mangamuk semakin kuat. Kembali ke (4) ini akan membuat kecemasan dasar dan
permusuhan dasar semakin kuat, dan akan terus semakin parah kalau lingkaran 4
> 5 > 6 > 7 > 8 > 9 > 4 dst. terus menerus terjadi.
2.1 Kecemasan
dan Konflik (Anxiety and Conflict)
Menurut Horney (Lindzey, 1985), semua orang mengalami creature
anxiety, perasaan cemas yang normal muncul pada masa bayi, ketika bayi
yang lahir dalam keadaan tak berdaya dan rentan itu dihadapkan
dengan kekuatan alam yang keras dan tidak bisa dikontrol. Bimbingan yang
penuh kasih sayang dan cinta pada awal kehidupan membantu bayi belajar
menangani situasi bahaya itu. Sebaliknya, tanpa bimbingan yang memadai bayi
akan megembangkan basic anxiety, basic hostility, dan
terkadang neurotic distress.
2.2 Kecemasan
Dasar dan Permusuhan Dasar (Basic Anxiety and Basic Hostility)
Kecemasan dasar berasal dari rasa takut, suatu peningkatan yang
berbahaya dari perasaan tak berteman dan tak berdaya dalam
dunia yang penuh ancaman (Horney, 1937). Kecemasan juga
telah didefinisikan dalam istilah perilaku ekspresif, tingkat umum aktivitas,
dan seluruh kelas gejala perilaku dan fisiologis
diagnostik. Kecemasan dasar selalu dibarengi oleh permusuhan
dasar, berasal dari perasaan marah, suatu predisposisi untuk mengantisipasi
bahaya dari orang lain dan untuk mencurigai orang lain itu. Bersama-sama,
kecemasan dan permusuhan membuat orang yakin bahwa dirinya harus
dijaga untuk melindungi keamanannya (Lindzey, 1985).
Kecemasan dasar itu sendiri bukanlah neurosis, melainkan “lahan subur
dimana neurosis dapat berkembang setiap saat” (Horney, 1937). Kecemasan dasar
terjadi terus menerus dan sulit dihentikan, secara
tidak langsung membutuhkan stimulus tertentu, seperti menjalani ujian
di sekolah atau berpidato. Kecemasan dasar mempengaruhi semua hubungan yang
terjalin dengan orang lain dan mengarah pada cara-cara yang tidak sehat untuk
berhadapan dengan orang lain.
Teori Horney tentang neurosis didasarkan pada konsep gangguan psikis yang
membuat orang terkunci dalam lingkaran yang membuat tingkah laku tertekan dan
tidak produktif, kemudian dikenal sebagai masalah kecemasan (Alwisol,
2009).
Bila teori belajar berurusan dengan kecemasan, dia berurusan terutama
dengan hubungan yang konsekuen, ketika eksistensialis berbicara
tentang kecemasan, dia khawatir terutama dengan pengalaman kecemasan, sedangkan
ia memiliki perhatian yang relatif sedikit dengan yg di kondisi belajar.
2.3 Konflik Interpersonal
: Kebebasan versus Kesepian
Konflik adalah pertentangan antar kekuatan yang berhadapan dalam fungsi
manusia, yang tidak dapat dihindari. Pengalaman konflik tidak berarti
mengidap neurotik. Suatu ketika, harapan, minat, atau pendirian seseorang
bertabrakan dengan orang lain. Konflik dalam diri sendiri adalah bagian yang
integral dari kehidupan manusia, misalnya dihadapkan pilihan dua keingianan
yang arahnya berbeda, atau antara harapan dengan kewajiban atau antara dua
perangkat nilai. Juga, nilai kultural sering mengalami konflik di dalam maupun
dengan nilai di luarnya. Misalnya, masyarakat mendorong anggotanya untuk
berkompetisi meraih prestasi, tetapi juga mewajibkan orang mempedulikan orang
lain dan mendahulukan minat kepentingan orang lain dari pada kepentingan
pribadi. Nilai-nilai tradisioanl menuntut peran ibu sebagai pengasuh anak
bertentangan dengan nilai modern yang menghargai persamaan hak pria dan
wanita (Alwisol, 2009).
Perbedaan konflik normal dengan konflik neurotik adalah taraf atau tinggi
rendahnya. Setiap orang memakai berbagai cara mempertahankan diri melawan
penolakan, permusuhan, dan persaingan dari orang lain. Orang normal mampu
berbagai macam-macam strategi pertahanan disesuaikan dengan masalahnya, sedang
orang neurotik secara komplusif memakai strategi pertahanan yang sama yang pada
dasarnya tidak produktif. Orang dengan kecemasan dasar mungkin memulai hidup
dengan konflik yang sangat berat, konflik antara kebutuhan rasa aman dan
kebutuhan menyatakan kebebasan emosi dan pikiran. Semuanya dimulai dari
hubungan bayi dengan ibunya, hubungan antar manusia. Dalam bukunya
Self-Analysis (19242), Horney mengemukakan sepuluh kebutuhan neurotik,
yakni kebutuhan yang timbul sebagai akibat dari usaha menemukan
pemecahan-pemecahan masalah gangguang antara hubungan manusia.
1. Kebutuhan kasih sayang
dan penerimaan : keinginan membabi-buta untuk menyenangkan orang lain
dan berbuat sesuai dengan harapan orang lain. Orang itu mengharapkan dapat
diterima baik orang lain, sehingga berusaha bertingkah laku sesuai dengan harapan
orang lain, cenderung takut berkemauan, dan sangat peka/ tergantung dengan
tanda-tanda permusuhan dan penolakan dari orang lain, dan perasaan permusuhan
di dalam dirinya sendiri.
2. Kebutuhan partner yang
bersedia mengambil alih kehidupannya : tidak memiliki kepercayaan
diri, berusaha mengikat diri dengan partner yang kuat. Kebutuhan ini mencakup
penghargaan yang berlebihan terhadap cinta, dan ketakutan akan kesepian dan
diabaikan.
3. Kebutuhan membatasi
kehidupan dalam ranah sempit : Penderita neurotik sering berusaha
untuk tetap tidak menarik perhatian, menjadi orang ke-dua, puas dengan yang
serba sedikit. Mereka merendahkan nilai kemampuan mereka sendiri, dan takut
menyuruh orang lain.
4. Kekuasaan :
kekuatan dan kasih sayang memungkin dua kebutuhan neurotik yang terbesar.
Kebutuhan kekuatan, keinginan berkuasa, tidak menghormati orang lain, memuja
kekuatan dan melecehkan kelemahan, yang berwujud sebagai kebutuhan mengontrol
orang lain dan menolak perasaan lemah atau bodoh.
5. Kebutuhan
mengeksploitasi orang lain : Takut menggunakan kekuasaan secara
terang-terangan, menguasai orang orang lain melalui eksploitasi dan superiorita
intelektual. Neurotik sering mengevaluasi orang lain berdasarkan bagaimana
mereka dapat dimanfaatkan atau dieksploitasi, pada saat yang sama mereka takut
dieksploitasi orang lain.
6. Kebutuhan pengakuan
sosial atau prestise : Kebutuahan memperoleh penghargaan
sebesar-besarnya dari masyarakat. Banyak orang yang berjuang melawan kecemasan
dasar dengan berusaha menjadi nomor satu, menjadi yang terpenting, menjadi
pusat perhatian.
7. Kebutuhan menjadi
pribadi yang dikagumi : Pengidap narkotik memiliki gambaran diri
melambung dan ingin dikagumi atas dasar gambaran itu, bukan atas siapa
sesungguhnya mereka. Inflasi harga diri yang terus menerus terjadi harus
ditutupi juga secara terus menerus dengan penghargaan dan penerimaan dari orang
lain.
8. Kebutuhan ambisi dan
prestasi pribadi : Penderita neurotik sering memiliki dorongan
untuk menjadi yang terbaik, contoh: penjual terbaik, pemain bowling
terbaik, pecinta terbaik. Mereka ingin menjadi yang terbaik dan memaksa
diri untuk semakin berprestasi sebagai akibat dari perasaan tidak aman, harus
mengalahkan orang lain untuk manyatakan superioritasnya.
9. Kebutuhan mencukupi
diri sendiri dan independensi : Neurotik yang kecewa – gagal menemukan
hubungan-hubungan yang hangat dan memuaskan dengan orang lain yang cenderung
akan memisahkan diri tidak mau terikat dengan orang lain, membuktikan bahwa
mereka bisa hidup tanpa orang lain. Gambaran khas dari sifat “play boy” yang
tidak mau terikat dengan wanita manapun.
10. Kebutuhan kesempurnaan dan ketaktercelaan :
Melalui perjuangan yang tidak mengenal lelah untuk menjadi sempurna, penderita
neurotik membuktikan harga diri dan superioritas pribadinya. Mereka sangat
takut membuat kesalahan dan mati-matian berusaha menyembunyikan kelemahannya
dari orang lain.
Kecemasan dasar dan permusuhan dasar terbentuk dari konflik antara
kebutuhan untuk keamanan dan kebutuhan untuk
mengekspresikan, emosi fundamental dan pikiran.
2.4 Konflik
Intrapsikis
Kecenderungan neurotik yang timbul dari kecemasan dasar, berkembang dari
hubungan anak dengan orang lain. Dinamika kejiwaan yang terjadi menekankan pada
konflik budaya dan hubungan antar pribadi. Dalam hal ini Horney tidak
mengabaikan faktor intrapsikis dalam perkembangan kepribadiannya. Menurutnya,
proses intrapsikis semula berasal dari pengalaman hubungan antar pribadi
kemudian mengembangkan eksistensi dirinya terpisah dari konflik interpersonal.
Untuk dapat memahami konflik intrapsikis yang sarat dengan dinamika diri, perlu
difahami empat gambaran diri dari Horney (Alwisol, 2009), yaitu :
1. Diri
Rendah (Despised Real Self)
Konsep yang salah
tentang kemampuan diri, keberhargaan dan kemenarikan diri, yang didasarkan pada
evaluasi orang lain yang dipercayainya, khususnya orang tuanya. Evaluasi
negative mungkin mendorong oramg untuk merasa tak berdaya.
2. Diri
Nyata (Real Self)
Pandangan
subjektif bagaimana diri yang sebenarnya, mencakup potensi untuk berkembang,
kebahagiaan, kekuatan, kemauan, kemampuan khusus, dan keinginan untuk
“realisasi diri”, keinginan untuk spontan menyatakan diri yang sebenarnya.
3. Diri
Ideal (Ideal Self)
Pandangan
subjektif mengenai diri yang seharusnya, suatu usaha untuk menjadi sempurna
dalam bentuk khayalan, sebagai kompensasi perasaan tidak mampu dan tidak
dicintai.
4. Diri
Aktual (Actual Self)
Berbeda dengan
real self yang subektif, aktual self adalah kenyataan objektif diri seseorang,
fisik dan mental apa adanya, tanpa dipengaruhi oleh persepsi orang lain.
2.5 Upaya Mengatasi (Attempts
At Coping)
Untuk mengatasi kecemasan dasar, orang mengembangkan sejumlah
strategi. Mereka menciptakan dan berusaha untuk mewujudkan sebuah
citra diri ideal dengan mencapai kesempurnaan, atau "kemuliaan",
mereka mengembangkan "sistem kebanggaan" untuk mendukung gambaran
ideal, serta satu set perilaku standar yang mustahil, atau
"keharusan", dan mereka mencoba untuk memungkiri, atau
"mengeksternalisasi", hal-hal dalam diri mereka yang mereka tidak
dapat mengatasi. Semua upaya ini dapat menghasilkan "keterasingan
dari diri"
Mengatasi telah didefinisikan dalam istilah psikologis oleh Susan Folkman
dan Richard Lazarus sebagai "constantly changing cognitive and
behavioral efforts to manage specific external and/or internal demands that are
appraised as taxing" (selalu berubah upaya kognitif dan perilaku
untuk mengelola tuntutan eksternal atau internal tertentu yang dinilai
sebagai beban) atau "exceeding the resources of the
person” (melebihi sumber dari orang). (Lazarus & Folkman,
1984)
Dengan demikian, mengatasi (Coping) merupakan pengeluaran
usaha sadar untuk memecahkan masalah personal dan interpersonal, dan
berusaha untuk menguasai, mengurangi atau mentolerir stres atau konflik.
Mekanisme coping psikologis biasanya disebut strategi mengatasi atau
keterampilan mengatasi. Istilah mengatasi umumnya mengacu pada strategi
penanggulangan adaptif atau konstruktif, yaitu strategi mengurangi tingkat
stres. Namun, beberapa strategi penanganan yang dapat dianggap maladaptif,
yaitu, tingkat stres meningkat. Maladaptif mengatasi dengan demikian dapat
dijelaskan, pada dasarnya, sebagai non-coping. Selanjutnya, istilah mengatasi
umumnya mengacu reaktif coping, yaitu, respon coping berikut stressor. Ini
kontras dengan mengatasi proaktif, dimana respon coping bertujuan untuk
mencegah stressor masa depan.Respon coping yang sebagian dikendalikan oleh
kepribadian (sifat kebiasaan), tetapi juga sebagian oleh konteks sosial,
khususnya sifat dari lingkungan stress.